Jumat, 19 Maret 2010

Pemikiran Orientalis Pasca -Tragedi WTC

________________________________________



Jumat, 24 Oktober 2003 sebagaimana telah di muat di harian suara merdeka



Pemikiran Orientalis Pasca -Tragedi WTC
Oleh: Shahib Al Adib (Shohibul Adib, S.Ag. M.S.I
KHAZANAH pemikiran kaum orientalis dari zaman ke zaman terus mengalami perkembangan dari sikap peyoratif kepada pemikiran yang lebih objektif tentang doktrin Islam. Apakah peristiwa runtuhnya gedung WTC, 11 September 2001 silam akibat aksi kamikaze oleh sekelompok teroris telah sedikit banyak mengubah cara pandang Barat, khususnya para cendekiawan tentang Islam.
Ada sebagian dari mereka yang menyatakan Islam identik dengan kekerasan. Benarkah tragedi itu telah memengaruhi pola pikir Barat dan sebagian kaum orientalis (pengkaji Islam dan dunia Timur) mengenai Islam? Sebuah pertanyaan yang layak untuk dicermati dan didiskusikan dengan menelusuri karya-karya yang telah mereka hasilkan mengenai doktrin Islam.
Pada abad pertengahan, studi yang dilakukan orientalis mengenai Islam, Alquran, dan Nabi Muhammad berkesan peyoratif. Dalam majalah Islam bulanan The Islamic Quarterly, Volume XXIII 1978, Al Tibawi menyatakan tulisan-tulisan orientalis terdahulu sangat menyakitkan hati umat Islam.
Karya mereka merupakan hasil studi terhadap Islam yang didasarkan pada rasa kebencian dan kedengkian serta dituangkan dalam gaya polemik yang kejam dan keterangan-keterangan palsu mengenai akidah Islam, Nabi Muhammad, dan sahabatnya.
Maxim Rodinson mengutip RW Wouthern dalam The Western Image, The Legacy of Islam (1974) dan mengatakan, di antara 1.100 hingga 1.140 penulis Latin memberikan kebebasan pada kebodohan imajinasi yang berada pada puncaknya. Mereka menggambarkan Muhammad sebagai ahli sihir yang kekuatan magis dan sihirnya menghancurkan gereja-gereja di Afrika dan Timur.
Pada abad ini pertama-tama yang menyebarkan informasi secara akurat tentang Islam adalah Peter yang patut dimuliakan (Peter the Verenable, Kepala Biara Cluny: 1094-1156). Di Spanyol ia mempekerjakan sebuah tim penerjemah Robert by Ketton, orang Inggris, untuk bersama menyelesaikan terjemahan Alquran pada 1143. Belakangan karya ini dijadikan rujukan oleh para orientalis.
Begitulah yang bisa ditangkap mengenai pemikiran orientalis abad pertengahan yang telah memandang Islam secara sembrono, tidak bisa membedakan antara fakta dan fiksi serta karyanya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.
Sekitar abad ke-17 dan ke-18, Barat mulai meninggalkan praduga dan cara polemis pandangan abad pertengahan. Barat mulai memandang Islam dengan tidak berat sebelah. Studi mengenai Islam dilakukan secara lebih objektif oleh RIchard Simon (1638-1712), seorang katolik Prancis.
Dalam Histoire Critique des Creances et des Coutomes des Nations du Levant (1948), ia memaparkan keimanan dan ritus-ritus kaum muslim berdasarkan sebuah karya seorang teolog muslim. Karya-karya WC Sminth, HAR Gibb, Louis Masignon, Marrshall GS Hodgson, dan W Montgomery Watt adalah di antara karya-karya yang lebih objektif dibandingkan dengan produk orientalis sebelumnya.
Pada abad ini kemunculan pemikirannya orientalis-orientalis baru mampu memerahkan telinga umat Islam. Paling tidak ada dua pemikir. Robert Spencer, orang AS lewat karyanya Islam Unvelied (2002) mencoba mencari akar kekerasan dan tindak terorisme melalui Alquran dan hadis. Dalam studinya, ia menyimpulkan bahwa ajaran-ajaran Islam bila tidak dipahami secara hati-hati mendorong lahirnya kekerasan dan tindak teroris. Ia pun menyimpulkan bahwa Islam identik dengan kekerasan.
Mun'im A Sirry penerjemah buku Spencer dalam pendahuluannya, Islam Ditelanjang (2003) menyatakan kritik Spencer berkesan bodoh, termasuk ketika mengatakan Alquran itu mengajarkan kebencian terhadap nonmuslim. Ia terganggu oleh ayat-ayat jihad. Kedua, Christhop Luxemburg, sebuah nama yang disamarkan. Ia adalah guru besar di salah satu perguruan tinggi di Jerman. Melalui dunia maya, ia menyatakan Alquran yang ada sekarang berbeda dari teks aslinya. Ia menilai teks Alquran lebih mirip dengan bahasa Aramaik ketimbang bahasa Arab.
Adapun naskah aslinya, menurut dia, telah dimusnahkan oleh khalifah ketiga, Usman bin Affan. Sebagai konsekuensinya, Muhammad yang dalam Alquran dikatakan sebagai "nabi penutup", dalam bahasa Aramaik menjadi "saksi para nabi" yang berarti saksi atas kebenaran teks Yahudi-Kristen.
Sangat Disayangkan
Hasil studi mereka tidak jauh beda dari hasil studi abad pertengahan. Sungguh disayangkan, pada abad modern sekarang masih ada orientalis, meskipun tidak semua, yang memandang Islam secara emosi, aholistik, tidak menyeluruh dan komprehensif dalam mengkaji doktrin Islam. Ada dua penyebab.
Pertama, tragedi WTC. Tragedi ini secara psikologis memengaruhi pola pikir mereka yang berdampak pada hasil penelitiannya. Ini tampak dari hasil studi Spencer dan Luxembrug di atas.
Kedua, perang salib. Perang ini juga berpengaruh secara psikologis bahkan dijadikan alat propaganda bagi kaum beriman untuk mencapai tujuan-tujuan sempit. Seperti ketika Presiden AS George W Bush melontarkan invasinya ke Irak sebagai tugas suci agama. Banyak para pemuka agama yang tidak sependapat dan mengkritik Bush. Karena Amstrong, mereka dinamakan tentara-tentara salib baru dari Barat.
Baik tragedi WTC maupun perang salib telah menjadikan Barat terus mencurigai dan menganggap bahaya ordo-ordo keagamaan Islam, ide Pan-Arabiya Saddam Hussein untuk menyatukan kawasan Arab, dan penyelesaian krisis Palestina dan Israel dianggap sebagai sebuah bahaya laten dan hantu yang menakutkan.
Untuk menyikapi dan mengakhiri tulisan ini, ada baiknya melihat pesan yang disampaikan Ahmad Syafi'i Ma'arif. "Cara terbaik dalam menghadapi karya-karya orientalis adalah tiru kesungguhan mereka dalam melahirkan karya-karya kreatif, tapi kembangkan sikap ekstrakritis terhadap tafsiran mereka mengenai doktrin Islam. Sikap yang hanya mencurigai adalah bentuk lain dari ketidakberdayaan intelektual."(33c)
--Shahib Al Adib, alumnus Fakultas Teologi IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
________________________________________
Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
________________________________________
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar